Sabtu, 22 November 2008

indikator akhlak



-->

INDIKATOR AKHLAK DALAM KEHIDUPAN
Kedudukan akhlak dalam kehidupan manusia menempati tempat yang sangat penting, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Jatuh bangunnya, jaya hancurnya suatu bangsa tergantung bagaimana akhlak penghuninya.
Seseorang yang berakhlak mulia, selalu melaksanakan kewajiban-kewajibannya, memberikan hak kepada yang berhak menerimanya. Adapun kewajiban-kewajiban manusia yang harus dipenuhi adalah kewajiban terhadap dirinya, kewajiban terhadap Allah SWT, kewajiban terhadap sesama manusia, kewajiban terhadap makhluk lain dan kewajiban terhadap alam.
Untuk memudahkan penelitian ini, penulis membatasi persoalan kewajiban-kewajiban manusia tersebut dalam lingkup kewajiban terhadap Allah SWT, kewajiban terhadap sesama manusia, dan kewajiban terhadap makhluk lain (tumbuh-tumbuhan dan binatang/hewan).
1. Akhlak Terhadap Allah SWT
Alam ini mempunyai pencipta dan pemelihara yang diyakini ada-Nya, yakni Allah SWT. Dia-lah yang memberikan rahmat dan menurunkan adzab kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dia-lah yang wajib diibadahi dan ditaati oleh segenap manusia. Sebagai kewajiban dan akhlak manusia kepada Allah di antaranya; taat, ikhlas, khusyu’, tasyakur (bersyukur), tawakal, dan taubat. Urutan bahasannya sebagai berikut:
a. Taat
Taat adalah melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Pengertian taat ini senada dengan pengertian ibadah, sebab maksud taat disini adalah beribadah kepada Allah.
العبادة هى التقرب إلى الله بامتثال أوامره واجتناب نواهيه
“Ibadah ialah taqarub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan mentaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala yang dilarang-Nya.” (Rachmat Djatnika, 1996:187)
Firman Allah SWT:
وأطيعوا الله والرسول لعلكم ترحمون (ال عمران:142)
“Taatlah kepada Allah dan perintah Rasul agar kamu diberi rahmat”
b. Ikhlas
Ikhlas adalah kesesuaian penampilan seorang hamba antara lahir dan batin. Sedangkan al-Tustari yang dikutip oleh Imam Nawawi (1996:46), ikhlas adalah gerak seseorang dan diamnya baik penampilan lahir maupun batin, semuanya itu hanya dibaktikan kepada Allah SWT, tidak tercampuri sesuatu apapun, baik hawa nafsu maupun keduniaan.
Beribadah hanya kepada Allah SWT dengan ikhlas dan pasrah, tidak boleh beribadah kepada apapun dan siapapun selain kepada-Nya. Hal ini sesuai dengan firman-Nya:
وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين حنفاء (البينة:5)
“Manusia tidak diperintah ibadah melainkan (beribadah) kepada Allah dengan tulus dan ikhlas kebaktian semata-mata karena-Nya”
c. Khusyu’
Dalam beribadah kepada Allah hendaklah besungguh-sungguh, merendahkan diri sepenuhnya dan khusyu’ kepada-Nya. Sebagaimana firman-Nya yang berbunyi:
قد أفلح المؤمنون الذين هم فى صلاتهم خاشعون (المؤمون:1-2)
“Beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya”
d. Tasyakur (bersyukur)
Tasyakur adalah berterimakasih kepada Allah atas segala pemberian dan merasakan kecukupan atas karunia-Nya. Firman Allah SWT:
ياأيها الذين آمنوا كلوا من طيبات ما رزقناكم واشكروا الله إن كنتم إياه تعبدون (البقرة:162)
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizqi yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu beribadah.”
Dan firman-Nya lagi dalam surat Ibrahim ayat 7, yang berbunyi:
وإذ تأذن ربكم لئن شكرتم لأزيدنكم ولئن كفرتم إن عذابى لشديد (ابراهيم:7)
“Dan ingatlah tatkala Tuhanmu mema’lumkan; jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkarinya, sesungguhnya siksaan-Ku sangat pedih”
e. Tawakal
Tawakal adalah mempercayakan diri kepada-Nya dalam melaksanakan sesuatu pekerjaan yang telah direncanakan dengan mantap (Hamzah Ya’qub, 1983:143)
Firman Allah SWT:
فإذا عزمت فتوكل على الله إن الله يحب المتوكلين (ال عمران)
“Apabila engkau telah mempunyai kemauan yang keras (ketetapan hati), maka percayakanlah dirimu kepada Allah, sesungguhnya Allah menyukai (mencintai) kepada orang-orang yang mempercayakan diri”
f. Taubat
Manusia tidak akan lepas dari dosa dan noda. Jika seseorang terjerumus ke dalam salah satu dosa, hendaklah cepat manusia segera ingat kepada Allah, menyesali perbuatannya yang salah dan memohon ampun (istighfar) kepada-Nya serta taubat yang sebenar-benarnya (Hamzah Ya’qub, 1983:144)

0 komentar:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More