This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Kamis, 23 Desember 2010

Khawarij


PEMIKIRAN KALAM KHAWARIJ
Oleh: M. Imam Pamungkas, S.Pd.I

 

A. SEJARAH KHAWARIJ


Secara bahasa, khawarij berasal dari bahasa Arab, yaitu خوارج
, yang asal katanya dari خرخ - يخرج (khoroja) yang berarti keluar, muncul, timbul, dan berontak. Khawarij merupakan istilah umum yang mencakup sejumlah aliran dalam Islam yang awalnya mengakui kekuasaan atau kepemimpinan khalifah 'Ali bin Abi Thalib, kemudian menolaknya. Aliran ini pertama kali muncul pada pertengahan abad ke-7, yang terpusat di daerah yang kini ada di Irak Selatan, dan merupakan bentuk yang berbeda dari Sunni dan Syi'ah. Dinamakan khawarij disebabkan karena keluarnya mereka dari dinul Islam dan pemimpin kaum muslimin ('Ali bin Abi Thalib) karena tidak setuju dengan tahkim atau arbitrase sebagai jalan keluar dalam penyelesaian persengketaan antara khalifah dengan Muawiyah bin Abi Sofyan. Tetapi Harun Nasution mengatakan ada pula yang berpendapat bahwa pemberian nama itu didasarkan atas ayat 100 dari Surat an-Nisa, yang di dalamnya disebutkan: "...keluar dari rumah lari kepada Allah dan Rasul-Nya". Dengan demikian kaum khawarij memandang diri mereka sebagai orang yang meninggalkan rumah dari kampung halamannya untuk mengabdi diri kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka pun menyebut dirinya Syurah, yang berasal dari kata Yasyri (mengorbankan), sebagaimana disebutkan dalam ayat 207 dari Surat Al-Baqarah: "Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah". Nama Haruriah juga diberikan kepada mereka, yang berasal dari kata Harura, yaitu satu desa yang terletak di dekat kota Kufah (Irak).
Kematian khalifah 'Utsman bin 'Affan secara tragis melalui tangan para perusuh tahun 35 H telah menyebabkan terjadinya beberapa peristiwa yang mengguncang tubuh umat Islam. Salah satu di antaranya adalah perang Shiffin, 2 tahun setelah 'Ali bin Abi Thalib dibai'at jadi khalifah menggantikan 'Utsman bin 'Affan.
Kabar kematian 'Ustman bin 'Affan kemudian terdengar oleh Mu'awiyyah bin Abu Sufyan, yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan 'Ustman bin 'Affan. Sesuai dengan syari'at Islam, Mu'awiyyah berhak menuntut balas atas kematian 'Ustman bin 'Affan. Mendengar berita ini, orang-orang khawarij pun ketakutan, kemudian menyusup ke pasukan Ali bin Abi Thalib. Mu'awiyyah berpendapat bahwa semua orang yang terlibat dalam pembunuhan 'Ustman harus dibunuh, sedangkan 'Ali bin Abi Thalib berpendapat yang dibunuh hanya yang membunuh 'Ustman saja karena tidak semua yang terlibat pembunuhan diketahui identitasnya. Akhirnya terjadilah perang Shiffin karena perbedaan dua pendapat tersebut. Kemudian masing-masing pihak mengirim utusan untuk berunding, dan terjadilah perdamaian antara kedua belah pihak. Melihat hal ini, orang-orang khawarij pun menunjukkan jati dirinya dengan keluar dari pasukan 'Ali bin Abi Thalib. Mereka merencanakan untuk membunuh Mu'awiyyah bin Abi Sufyan dan 'Ali bin Abi Thalib, tapi yang berhasil mereka bunuh hanya 'Ali bin Abi Thalib.
Perang besar antara kubu 'Ali bin Abi Thalib dengan kubu Mu'awiyah bin Abi Sufyan itu, tidak hanya memecahkan umat Islam menjadi dua kubu besar secara politis, tetapi juga melahirkan dua aliran pemikiran yang secara ekstrem selalu bertentangan yaitu Khawarij dan Syi'ah. Misalnya Khawarij mengkafirkan dan menghalalkan darah 'Ali bin Abi Thalib, sementara Syi'ah belakangan mengkultuskan 'Ali bin Abi Thalib. Sekalipun semula kedua aliran tersebut bersifat politik tapi kemudian untuk mendukung pandangan dan pendirian politik masing-masing, mereka memasuki kawasan pemikiran agama (baca: teologi).

Idealisme (aliran filsafat)


Idealisme
(J.G. Fichte, Schelling, Hegel, dan Schopenhauer)

 
  1. Pendahuluan
    1. Pengertian
Idealisme adalah suatu ajaran/faham atau aliran yang menganggap bahwa realitas ini terdiri atas roh-roh (sukma) atau jiwa, ide-ide dan pikiran atau yang sejenis dengan itu. Idealisme, kadang-kadang digunakan istilah mentalisme atau imaterialisme, yaitu keyakinan bahwa hanya roh, jiwa, pikiran dan isinya yang ada. Sebuah istilah yang pertama kali digunakan secara filosofis oleh Liebniz awal abad ke-18. Ia menetapkan istilah ini pada pemikiran Plato, seraya memperlawankannya dengan materialisme Epikorus.
Idealisme juga merupakan salah satu aliran dalam sejarah filsafat barat modern yang berpandangan bahwa kenyataan akhir yang sungguh-sungguh nyata itu adalah pikiran (idea) dan bukanlah benda di luar pikiran kita (materi). Realitas itu sama luasnya dengan pikiran, maka yang real itu rasional dan yang rasional itu real. Benda-benda di luar pikiran, seperti alam, masyarakat, alat-alat, dst. Tidak memiliki status ontologisnya, yaitu tidak sungguh-sungguh real. Tak ada benda-benda di luar pikiran. Benda yang kita lihat seolah-olah di luar pikiran kita, seperti kursi dihadapan kita, sebenarnya adalah idea atau pikiran dalam bentuk lahiriah.
  1. Perkembangan Idealisme
Aliran ini merupakan aliran yang sangat penting dalam perkembangan sejarah pikiran manusia. Mula-mula dalam filsafat Barat kita temui dalam bentuk ajaran yang murni dari Plato. Yang menyatakan bahwa alam, cita-cita itu adalah yang merupakan kenyataan sebenarnya. Adapun alam nyata yang menempati ruang ini hanyalah berupa bayangan saja dari alam idea itu.
Di masa abad pertengahan malahan satu-satunya pendapat yang disepakati oleh semua ahli pikir adalah dasar idealisme ini.
Pada jaman Aufklarung ulama-ulama filsafat yang mengakui aliran serba dua seperti Descartes dan Spinoza yang mengenal dua pokok yang bersifat kerohanian dan kebendaan maupun keduanya mengakui bahwa unsur kerohanian lebih penting daripada kebendaan. Selain itu, segenap kaum agama sekaligus dapat digolongkan kepada penganut Idealisme yang paling setia sepanjang masa, walaupun mereka tidak memiliki dalil-dalil filsafat yang mendalam. Puncak jaman idealisme pada masa abad ke-18 dan 19 ketika periode idealisme Jerman sedang besar sekali pengaruhnya di Eropa.
  1. Tokoh-tokohnya
    1. Plato (477 -347 SM)
    2. Spinoza (1632 -1677)
    3. Liebniz (1685 -1753)
    4. Berkeley (1685 -1753)
    5. Immanuel Kant (1724 -1881)
    6. J. Fichte (1762 -1814)
    7. F. Schelling (1755 -1854)
    8. G. Hegel (1770 -1831)
Di dalam filsafat, idealisme adalah doktrin yang mengajarkan bahwa hakekat dunia fisik hanya dapat dipahami dalam kebergantungan pada jiwa (mind) dan spirit (roh). Istilah ini diambil dari "idea", yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Keyakinan ini pada Plato. Pada filsafat modern, pandangan ini mula-mula kelihatan pada George Berkeley (1685-1753) yang menyatakan bahwa hakekat objek-objek fisik adalah idea-idea. Leibniz menggunakan istilah ini pada permulaan abad ke-18; menamakan pemikiran Plato sebagai lawan materialisme Epicurus.

 

 
  1. Pembahasan
    1. Filsafat Idealisme Fichte (1762-1824)
Johan Gottlieb Fichte adalah filosof Jerman. Idealis etis Fichte diringkaskan dalam pernyataan bahwa dunia aktual hanya dapat dipahami sebagai bahan tugas-tugas kita. Oleh karena itu, filsafat bagi Fichte adalah filsafat hidup yang terletak pada pemilihan antara moral idealisme dan moral materialisme. Subtansi materialisme menurut Fichte adalah naluri, kenikmatan yang tak bertanggung jawab, bergantung pada keadaan, sedangkan idealisme ialah kehidupan yang bergantung pada diri sendiri.
Bagi seorang idealis, hukum moral ialah setiap tindakan harus merupakan langkah yang menuju kesempurnaan spiritual. Itu hanya dapat dicapai pada masyarakat yang anggota-anggotanya  yang bebas merealisasi diri mereka dalam kerja untuk masyarakat. Pada tingkatan yang lebih tinggi, keimanan dan harapan manusia muncul pada kasih Tuhan.
Filsafat menurut Fichte haruslah dideduksikan dari satu prinsip. Ini sudah mencukupi untuk memenuhi tuntutan pemikiran, moral, bahkan seluruh kebutuhan manusia. Prinsip yang dimaksud ada di dalam etika; bukan teori, melainkan prakteklah yang menjadi pusat yang disekitarnya kehidupan diatur. Unsur esensial dalam pengalaman adalah tindakan, bukan fakta. Kemudian, dia berpendapat, dasar kepribadian adalah kemauan; bukan kemauan irasional pada Schopenhauer, melainkan kemauan yang dikontrol oleh kesadaran bahwa kebebasan di peroleh hanya denagn melalui kepatuhan pada peraturan. Kehidupan moral adalah kehidupan usaha. Manusia dihadapkan pada rintangan-rintangan, dan manusia digerakkan oleh rasa wajib bahwa ia berutang pada aturan moral umum yang memungkinkannya mampu memilih yang baik.
    Dengan idealisme subjektifnya, Fichte mengajarkan bahwa subjek manusia benar-benar menciptakan realitas. Dengan demikian, tidak realitas yang berdiri sendiri dan terlepas dari subjek.

 
  1. Filsafat Idealisme Schelling (1775-1854)
Friedrich Wilhelm Joshep Achelling adalah filosofis idealis Jerman muda yang sudah mencapai kematangan sebagai filosof pada waktu itu. Dia adalah filosof idealis Jerman yang telah meletakkan dasar-dasar pemikiran bagi perkembangan idealisme Hegel, Schelling adalah idealis Jerman yang terbesar. Pemikirannya pun merupakan mata rantai antara Fichte dan Hegel.
Seperti Fichte, Schelling mula-mula berusaha menggambarkan jalan yang intelek dalam proses mengetahui, semacam epistimologi. Fichte memandang alam semesta sebagai lapangan lapangan tugas manusia dan sebagai basis kebebasan moral, Schelling membahas realitas lebih objektif dan menyiapkan jalan bagi idealisme absolut Hegel.
Dalam pandangan Schelling, realitas adalah identik dengan gerakan pemikiran yang berevolusi secara dialektis. Akan tetapi ia berbeda dalam segala hal dengan Hegel. Pada Schelling, juga pada Hegel, realitas adalah proses revolusi dunia menuju sosialisasinya berupa suatu eksresi kebenaran terakhir.
Dalam rasionalisme, Schelling membantah dan mengkritik semua bentuk paham rasionalisme. Yaitu ketika dia memandang alam ini, katanya, tidak dapat dibayangkan system rasional. Dan semenjak tahun 1809 ia berusaha mengembangkan paham metafisika emperisme. Disini ia memperlihatkan bahwa susunan rasionalisme adalah konstur hiipotesis, yang memerlukan pembuktian nyata, baik pada alam maupun pada sejarah. Ia juga menambahkan bahwa kategori agama pada akhinya merupakan pernyataan yang lebih berarti dari pada realitas yang lain.
Reese (1980: 511) menyatakan bahwa filsafat schalling berkembang melalui lima tahap. (1) idealisme subjektif. Pada tahap ini ia mengikuti pemikiran Fichte. (2) filsafat alam. Pada tahap ini ia menerapkan prinsip atraksi dan repulse dalam berbagai problem filsafat dan sains. (3) idealism transendental atau idealism objektif. Filsafat alam dilengkapi oleh suatu kesadaran absolut yang perkembangannya merupakan wahyu yang absolut dalam sejarah. Filsafatnya tentang seni memperlihatkan pendapatnya itu. Ia menyatakan bahwa seni merupakan kesatuan antara subjektif dan objektif, roh dan alam. Tragedy dipandang sebagai tubrujan antara suatu keharusan dengan kebebasan, didamaikan oleh kesediaan menerima hukuman secara jantan. Hukuman itu memperlihatkjan kesediaan kita menerilma realitas dan idealitas. (4) filsafat identitas. Yang absolute itu pada tahap  ini menjadi lebih penting kedudukannya, sipandang sebagai identitas semua individu isi alam. (5) filsafat positif. Pada tahap terakhir ini pemikirannya menekankan nilai mitologi dan mengakui perbedaan yang jelas antara Tuhan dan alam semesta. Pada tahap ini ia mengikuti sebagian pemikiran Jacob Boehme dan Neo-Platonisme. Namun Petrus mengatakan bahwa dalam sejarah filsafat, biasanya perkembangan filsafat Schelling dibagi menjadi empat periode, yaitu periode filsafat alam, periode sistem idealistis atau tahap filsafat identitas, periode sinkretisme, dan periode teosofi.

 
  1. Filsafat Idealisme Hegel (1770-1831)
Merupakan puncak gerakan filsafat Jerman yang berawal dari Kant; walaupun ia sering mengkeritik Kant. Filsafatnya tidak akan pernah muncul kalau tidak ada Kant. Pengaruhnya, kendati kini surut, sangat besar, tidak hanya atau terutama di Jerman. Pada akhir abad kesembilan belas, para filusuf akademik terkemuka, baik di Amerika maupun Britina Raya, sangat bercorak Hegelian. Marx, seperti yang kita ketahui, ialah murid Hegel semasa mudanya, dan dalam sistem filsafatnya yang terakhir ia masih mempertahankkan beberapa corak Hegelian.
Filosof Amerika, M. R. Cohen, menyebut Hegel sebagai filosof terbesar abad ke-19. Kalau melihat pengaruhnya pada Marx saja agaknya penyataaan Cohen itu cukup beralasan. Dalam pengantar bukunya, Das Kapital edisi kedua, Marx mengatakan bahwa dirinya adalah murid Hegel sekalipun "dialektika saya berlawanan dengan dialektika Hegel".
Masalah pokok yang hendak dicari Hegel jawabannya muncul dari suasana perpecahan keyakinan Kristen dan penuhanan akal sebagaimana muncul dalam revolusi Prancis 1789. Ini adalah masalah nasib manusia, masalah kebermaknaan eksistensi manusia. Hegel berusaha membuat jawaban dengan menggunakan istilah-istilah sekular. Hegel menghubungi nenek moyangnya orang Yunani, untuk meminta pertolongan mencari jawaban jawaban atas persoalan dasar itu. Di dalam bukunya, History Of Pihlosophy, ia mengatakan, "Aristoteles adalah tokoh Yunani yang paling penting dipelajari; pada Plato kita memperoleh prinsip-prinsip umum yang abstrak; pada Aristoteles pemikiran itu sudah menjadi pemikiran yang kongkrit."
Pusat filsafat Hegel ialah konsep Geist (roh, spirit,) suatu istilah yang diilhami oleh agamanya. Istilah ini agak sulit dipahami. Roh dalam pandangan Hegel adalah sesuatu yang real, kongkrit, kekuatan yang objektif, menjelma dalam berbagai bentuk sebagai dunia Roh yang menempati objek-objek khusus. Di dalam kesadaran diri, roh itu merupakan esensi manusia dan juga esensi sejarah manusia.
Bagian metafisikanya ini dimulai dari penmbahasan tentang rasio. Bertens (1979;68) menjelaskan bahwa Hegel sangat mementingkan rasio. Tentu saja karena ia seorang Idealis. Yang dimaksud olehnya bukan saja rasio pada manusia perseorangan, tapi terutama rasio pada subjek absolute kerena Hegel juga menerima prinsip idealistic bahwa realita seluruhnya harus di setarafkan dengan suatu subjek. Dalil Hegel yang kemudian terkenal  berbunyi;
"Semua yang real bersifat rasional dan semua yang rasional bersifat real." Maksudnya, luasnya rasio sama dengan luasnya relaitas. Realitas seluruhnya adalah proses pemikiran (idea, menurut istilah Hegel) yang memikirkan dirinya sendiri. Atau dengan perkataan Hegel yang lain, realita seluruhnya adalah roh
yang lambat laun menjadi sadar akan dirinya. Dengan mementingkan rasio, Hegel sengaja beraksi terhadap kecenderungan intelektual ketika itu yang mencurigai sambil mengutamakan perasaan. Menurut Marx ada dua hal yang dapat menjadi titik tolak kita dalam menelusuri beberapa gagasan dasar Hegel, di antaranya Hegel melihat manusia sebagai hasil sebuah proses, dan proses itu di pahami sebagai sebuah pekerjaan.
Hegel menegaskan bahwa yang nyata adalah rasional, dan yang rasional adalah nyata. Namun ketika ia mengatakan hal ini ia tidak memaksudkan "yang nyata" itu sebagai apa yang menurut para tokoh empiris dipandang nyata. Ia mengakui, bahkan meyakinkan, bahwa apa yang bagi tokoh empiris terlihat sebagai fakta adalah, dan pasti, tidak rasional; ini hanya setelah karakter yang terlihat pada fakta itu dijelmakan memandang karakter-karakter itu sebagai aspek-aspek dari keseluruhan sehingga terlihat rasional. Sekalipun begitu, identifikasi terhadap yang nyata dan yang rasional itu tentu menimbulkan beberapa kepuasan yang tak biasa dipiiisahkan keyakinan bahwa "apa saja yang berada (is), adalah benar".
Ada dua hal yang membuat Hegel berbeda dengan orang-orang yang memiliki metafisis yang kurang lebih mirip dengannya. Salah satunya adalah penekanan pada logika; Hegel memandang bahwa hakekat realitas biasa dideduksi dari pertimbangan tunggal bahwa realitas harus tidak kontradiktif diri. Corak pembeda lainnya (yang terkait erat dengan yang pertama) adalah gerakan tritungal yang disebut "dialektik".
Logika, menurut pemahaman Hegel, dinyatakan sebagai hal yang sama dengan metafisika. Ini berbeda dengan apa yang biasanya disebut logika. Pandangannya adalah bahwa segala predikat biasa, jika diterima sebagai sesuatu yang memungkinkan keutuhan realitas, menghasilkan kontradiktif diri. Untuk contoh kasar, kita biasa mengambil teori Permides bahwa Yang Esa, yang dia sendirian adalah nyata, itu bersifat bulat. Tidak ada yang bisa bulat kecuali yang memiliki garis batas, dan tidak ada yang bisa memiliki garis batas kecuali ada sesuatu (atau sekurang-kuranmgnya ruang hampa) diluarnya. Oleh sebab itu menganggap alam semesta sebagai kaseluruhan yang bulat adalah kontradiktif diri. (argument ini bisa dipersoalkan dengan membawanya kedalam geometri Non-Euklides, tetapi argument ini berfungsi sebagai ilustrasi.) atau mari kita ambil ilustrasi lain, tanpa kontradiksi yang terlihat, bahwa pak Ali ialah seorang paman; namun kalau anda mengatakan bahwa alam semesta adalah seorang paman, anda akan menceburkan diri sendiri kedalam beberapa kesulitan. Paman adalah orang yang memiliki kemenakan, dan kemenakan ialah orang terpisah dari paman; oleh sebab itu, seorang paman tidak bisa menjadi realitas seutuhya.
Konsep filsafat Hegel seluruhnya historis dan  relatif. Karena juga dipengaruhi oleh pandangan-pandangan antropologi dan sosiologi modern, relativismenya cukup menonjol. Ia mengatakan bahwa apa yang benar ialah perubahan. Kunci filsafat Hegel terletak pada pandangannya tentang sejarah. Sejarah, menurut Hegel, mengikuti jiwa dialektik.
Untuk menjelaskan filsafatnya, Hegel menggunakan dialektika sebagai metode. Namun, dialektika itu bukanlah sekedar digunakan untuk menjelaskan. Lebih luas dari itu, menurut Hegel, dalam realitas ini berlangsung dialektika. Dealektika yang berlangsung dalam realitas itu diungkapkan oleh Hegel dalam filsafatnya. Yang dimaksud oleh Hegel dengan dialektika ialah mendamaikan. Mengkompromikan hal-hal yang berlawanan (Bertens,1979;68).
Proses dialektika selalu terdiri atas tiga fase. Fase pertama (tesis) dihadapi (antithesis) fase kedua, dan akhirnya timbul fase ketiga (sintesis). Dalam sintesis itu, tesis dan antithesis menghilang. Dapat juga tidak menghilang ia masih ada, tetapi sudah diangkat pada tingkat yang lebih tinggi. Proses ini berlangsung terus. Sintesis segera menjadi tesis baru, dihadapi oleh antithesis baru, dan menghasilkan sintesis baru. Dan sintesis baru ini segera pula menjadi tesis baru lagi, dan seterusnya.

 
4. Filsafat Idealisme Arthur Schopenhauer

Sama seperti pemikiran Fichte, Schelling, dan Hegel, filsafat Schopenhauer juga memiliki hubungan yang erat dengan Kant. Dia menyetujui pandangan Kant bahwa jangkauan pengetahuan kita hanya terbatas pada bidang penampakan atau fenomena belaka, sedangkan realitas tidak dikenal.
Dia merupakan seorang filsuf
Jerman yang melanjutkan tradisi filsafat pasca-Kant. Schopenhauer lahir di Danzig pada tahun 1788. Dia menempuh pendidikan di Jerman, Perancis, dan Inggris. Dia mempelajari filsafat di Universitas Berlin dan mendapat gelar doktor di Universitas Jena pada tahun 1813. Dia menghabiskan sebagian besar hidupnya di Frankfurt, dan meninggal dunia di sana pada tahun 1860.

 
  1. Penutup
Schelling menamakan idealisme Fichte adalah idealisme subjektif karena bagi Fichte adalah suatu tempat memahami subjek. Solipsisme, suatu pandangan metafisika yang mengatakan bahwa yang dapat dipahami adalah diri sendiri, dapat digolongkan kedalam idealisme subjektif. Fichte, tokoh yang  berpendapat bahwa kemauan moral (moral will) sebagai yang utama di dalam idealisme, dianggap sebagai pendiri idealisme Jerman.
Schalling menyebut filsafatnya pada masa pertengahan perkembangan pemikirannya idealisme subjektif (objective idealis) karena menurut pandangannya, alam adalah sekedar "intelejensia yang dapat dilihat" (visible intellijence). Kalau begitu maka seluruh filosofis yang berusaha mengidentifikasi realitas dengan idea, rasio, atau spirit, seperti Berkey dan seluruh filosofis panpsikisme, dapat di golongkan kedalam jalur idealisme objektif.
Hegel dapat menerima adanya penggolongan menjadi idealisme subjektif dan idealisme objektif. Dari sini ia mengemukakan filsafatnya tesis-antitesis, dan ia mendirikan alur pemikirannya semdiri yang disebutnya idealisme absolute sebagai sintesis tertinggi dibandingkan dengan idealisme subjektif (tesis) dan idealisme objektif (antitesis). Sejak Hegel mengemukakan idealisme absolute banyak filosofis yang menekankan pemikirannya pada yang absolute. Diantara tokoh idealisme absolute adalah Bradley, T.H Green, Bernard Bosanquest, dan Josiah Roice.
Kant menyebut filsafatnya idealisme transendal atau idealisme kritis(critical idealism). Disini diajarkan bahwa isi pengalaman langsung yang kita peroleh bukanlah "ianya"(thing-in them selves), dan ruang dan waktu adalah bentuk-bentuk intuisi kita. Menurut Schalling idealisme transcendental Kant itu sama saja dengan idealisme objektif.
Pendapat yang mengantakan bahwa seseorang hanya dapat kontak dengan idea-idea, atau pada kesempatan tertentu dengan sosok, fisik, kadang-kadang disebut idealisme epistimologi (epistemological idealisme). Bila ini kita terima, maka tokoh-tokoh berikut ini dapat digolongkan penganut idealisme epistimologi, yaitu Locke dan kebanyakan emperesis, tokoh-tokoh okasionalisme Prancis, begitu juga dengan fenomenologisme. Oleh karena itu, pengkategorian itu menyebabkan kebingungan karena pengkategorian dari segi epistimologi ini akan memasukkan orang-orang yang posisi metafisikanya realisme, dualisme, materialisme, dan sekeptisisme kedalam satu kelompok (idealisme epistimologis).
Jadi, istilah idealisme itu berkembang dalam berbagai pengertian, dan berkembang menjadi berbagai spesies.

 

 

 

 

 
DAFTAR PUSTAKA

 
Bagus, Lorens. Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia, Cet. 4, 2005
Bertens, K, Ringkasan Sejarah Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1975
Franz Magnis-Suseno, Pijar-Pijar Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 2005
Hadiwijono, Harun, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yogyakarta: Kanisius, 1980
Hardiman, F. Budi, Filsafat Modern, Dari Machiavelli sampai Nietzsche, Jakarta:
Gramedia, Cet. 2, 2007
Lily Tjahjadi, Simon Petrus, Pr, Petualangan Intelektual: Konfrontasi dengan Para Filsuf dari Zaman Yunani Hingga Zaman Modern, Yogyakarta: Kanisius,
2004
O. Kattsoff, Louis, Pengantar Filsafat, Yogyakarta: Tiara Wacana, Cet. 7, 1996
Russell Bertrand. Sejarah Filsafat Barat LTD., London, 1946
Tafsir Ach, Filsafat Umum, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, Cet. I, 2003

 

 

Minggu, 29 Maret 2009

Mengenal Autis

MENGENAL AUTIS

Kata autis berasal dari bahasa Yunani "auto" berarti sendiri yang ditujukan pada seseorang yang menunjukkan gejala "hidup dalam dunianya sendiri". Pada umumnya penyandang autisma mengacuhkan suara, penglihatan ataupun kejadian yang melibatkan mereka. Jika ada reaksi biasanya reaksi ini tidak sesuai dengan situasi atau malahan tidak ada reaksi sama sekali. Mereka menghindari atau tidak berespon terhadap kontak sosial (pandangan mata, sentuhan kasih sayang, bermain dengan anak lain dan sebagainya).

Pemakaian istilah autis kepada penyandang diperkenalkan pertama kali oleh Leo Kanner, seorang psikiater dari Harvard (Kanner, Austistic Disturbance of Affective Contact) pada tahun 1943 berdasarkan pengamatan terhadap 11 penyandang yang menunjukkan gejala kesulitan berhubungan dengan orang lain, mengisolasi diri, perilaku yang tidak biasa dan cara berkomunikasi yang aneh.

Autis adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial. Autis dapat terjadipada semua kelompok masyarakat kaya miskin, di desa dikota, berpendidikan maupun tidak serta pada semua kelompok etnis dan budaya di dunia.

Jumlah anak yang terkena autis semakin meningkat pesat di berbagai belahan dunia. Di Kanada dan Jepang pertambahan ini mencapai 40 persen sejak 1980. Di California sendiri pada tahun 2002 di-simpulkan terdapat 9 kasus autis per-harinya. Di Amerika Serikat disebutkan autis terjadi pada 60.000 - 15.000 anak dibawah 15 tahun. Kepustakaan lain menyebutkan prevalens autis 10-20 kasus dalam 10.000 orang, bahkan ada yang mengatakan 1 diantara 1000 anak. Di Inggris pada awal tahun 2002 bahkan dilaporkan angka kejadian autis meningkat sangat pesat, dicurigai 1 diantara 10 anak menderita autisma. Di Indonesia yang berpenduduk 200 juta, hingga saat ini belum diketahui berapa persisnya jumlah penyandang namun diperkirakanjumlah anak autis dapat mencapai 150 --200 ribu orang.Perbandingan antara laki dan perempuan adalah 2,6 - 4 : 1, namun anak perempuan yang terkena akan menunjukkan gejala yang lebih berat.


PENYEBAB AUTIS

Penyebab autis belum diketahui secara pasti. Beberapa ahli menyebutkan autis disebabkan karena multifaktorial. Beberapa peneliti mengungkapkan terdapat gangguan biokimia, ahli lain berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh gangguan psikiatri/jiwa. Ahli lainnya berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh karena kombinasi makanan yang salah atau lingkungan yang terkontaminasi zat-zat beracun yang mengakibatkan kerusakan pada usus besar yang mengakibatkan masalah dalam tingkah laku dan fisik termasuk autis.

Beberapa teori yang didasari beberapa penelitian ilmiah telah dikemukakan untuk mencari penyebab dan proses terjadinya autis. Beberapa teori penyebab autis adalah : teori kelebihan Opioid, teori Gulten-Casein (celiac), Genetik (heriditer), teori kolokistokinin, teori oksitosin Dan Vasopressin, teori metilation, teori Imunitas, teori Autoimun dan Alergi makanan, teori Zat darah penyerang kuman ke Myelin Protein Basis dasar, teori Infeksi karena virus Vaksinasi, teori Sekretin, teori kelainan saluran cerna (Hipermeabilitas Intestinal/Leaky Gut), teori paparan Aspartame, teori kekurangan Vitamin, mineral nutrisi tertentu dan teori orphanin Protein: Orphanin.

Walaupun paparan logam berat (air raksa) terjadi pada setiap anak, namun hanya sebagian kecil saja yang mengalami gejala autism. Hal ini mungkin berkaitan dengan teori genetik, salah satunya berkaitan dengan teori Metalotionin. Beberapa penelitian anak autism tampaknya didapatkan ditemukan adanya gangguan netabolisme metalotionin. Metalotionon adalah merupakan sistem yang utama yang dimiliki oleh tubuh dalam mendetoksifikasi air raksa, timbal dan logam berat lainnya. Setiap logam berat memiliki afinitas yang berbeda terhada metalotionin. Berdasarkan afinitas tersebut air raksa memiliki afinitas yang paling kuar dengan terhadam metalotianin dibandingkan logam berat lainnya seperti tenbaga, perak atau zinc.

Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilaporkan para ahli menunjukkan bahwa gangguan metalotianin disebabkan oleh beberapa hal di antaranya adalah : defisiensi Zinc, jumlah logam berat yang berlebihan, defisiensi sistein, malfungsi regulasi element Logam dan kelainan genetik, antara lain pada gen pembentuk netalotianin

Perdebatan yang terjadi akhir akhir ini berkisar pada kemungkinan penyebab autis yang disebabkan oleh vaksinasi anak. Peneliti dari Inggris Andrew Wakefield, Bernard Rimland dari Amerika mengadakan penelitian mengenai hubungan antara vaksinasi terutama MMR (measles, mumps rubella ) dan autisme. Banyak penelitian lainnya yang dilakukan dengan populasi yang lebih besar dan luas memastikan bahwa imunisasi MMR tidak menyebabkan Autis. Beberapa orang tua anak penyandang autisme tidak puas dengan bantahan tersebut. Bahkan Jeane Smith seorang warga negara Amerika bersaksi didepan kongres Amerika : kelainan autis dinegeri ini sudah menjadi epidemi, dia dan banyak orang tua anak penderta autisme percaya bahwa anak mereka yang terkena autis disebabkan oleh reaksi dari vaksinasi.

Penelitian dalam jumlah besar dan luas tentunya lebih bisa dipercaya dibandingkan laporan beberapa kasus yang jumlahnya relatif tidak bermakna secara umum. Namun penelitian secara khusus pada penyandang autis, memang menunjukkan hubungan tersebut meskipun bukan merupakan sebab akibat..

Banyak pula ahli melakukan penelitian dan menyatakan bahwa bibit autis telah ada jauh hari sebelum bayi dilahirkan bahkan sebelum vaksinasi dilakukan. Kelainan ini dikonfirmasikan dalam hasil pengamatan beberapa keluarga melalui gen autisme. Patricia Rodier, ahli embrio dari Amerika bahwa korelasi antara autisme dan cacat lahir yang disebabkan oleh thalidomide menyimpulkan bahwa kerusakan jaringan otak dapat terjadi paling awal 20 hari pada saat pembentukan janin. Peneliti lainnya, Minshew menemukan bahwa pada anak yang terkena autisme bagian otak yang mengendalikan pusat memory dan emosi menjadi lebih kecil dari pada anak normal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa gangguan perkembangan otak telah terjadi pada semester ketiga saat kehamilan atau pada saat kelahiran bayi.

Karin Nelson, ahli neorology Amerika mengadakan menyelidiki terhadap protein otak dari contoh darah bayi yang baru lahir. Empat sampel protein dari bayi normal mempunyai kadar protein yang kecil tetapi empat sampel berikutnya mempunyai kadar protein tinggi yang kemudian ditemukan bahwa bayi dengan kadar protein otak tinggi ini berkembang menjadi autis dan keterbelakangan mental. Nelson menyimpulkan autisme terjadi sebelum kelahiran bayi.

Saat ini, para pakar kesehatan di negara besar semakin menaruh perhatian terhadap kelainan autis pada anak. Sehingga penelitian terhadap autism semakin pesat dan berkembang. Sebelumnya, kelainan autis hanya dianggap sebagai akibat dari perlakuan orang tua yang otoriter terhadap anaknya. Kemajuan teknologi memungkinkan untuk melakukan penelitian mengenai penyebab autis secara genetik, neuroimunologi dan metabolik. Pada bulan Mei 2000 para peneliti di Amerika menemukan adanya tumpukan protein didalam otak bayi yang baru lahir yang kemudian bayi tersebut berkembang menjadi anak autisme. Temuan ini mungkin dapat menjadi kunci dalam menemukan penyebab utama autis sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahannya.


MANIFESTASI KLINIS AUTIS

Autis adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang komunikasi, gangguan dalam bermain, bahasa, perilaku, gangguan perasaan dan emosi, interaksi sosial, perasaan sosial dan gangguan dalam perasaan sensoris.

Gangguan dalam komunikasi verbal maupun nonverbal meliputi kemampuan berbahasa mengalami keterlambatan atau sama sekali tidak dapat berbicara. Menggunakan kata kata tanpa menghubungkannya dengan arti yang lazim digunakan.Berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh dan hanya dapat berkomunikasi dalam waktu singkat. Kata-kata yang tidak dapat dimengerti orang lain ("bahasa planet"). Tidak mengerti atau tidak menggunakan kata-kata dalam konteks yang sesuai. Ekolalia (meniru atau membeo), menirukan kata, kalimat atau lagu tanpa tahu artinya. Bicaranya monoton seperti robot. Bicara tidak digunakan untuk komunikasi dan imik datar

Gangguan dalam bidang interaksi sosial meliputi gangguan menolak atau menghindar untuk bertatap muka. Tidak menoleh bila dipanggil, sehingga sering diduga tuli. Merasa tidak senang atau menolak dipeluk. Bila menginginkan sesuatu, menarik tangan tangan orang yang terdekat dan berharap orang tersebut melakukan sesuatu untuknya. Tidak berbagi kesenangan dengan orang lain. Saat bermain bila didekati malah menjauh. Bila menginginkan sesuatu ia menarik tangan orang lain dan mengharapkan tangan tersebut melakukan sesuatu untuknya.

Gangguan dalam bermain diantaranya adalah bermain sangat monoton dan aneh misalnya menderetkan sabun menjadi satu deretan yang panjang, memutar bola pada mainan mobil dan mengamati dengan seksama dalam jangka waktu lama. Ada kelekatan dengan benda tertentu seperti kertas, gambar, kartu atau guling, terus dipegang dibawa kemana saja dia pergi. Bila senang satu mainan tidak mau mainan lainnya. Tidak menyukai boneka, tetapi lebih menyukai benda yang kurang menarik seperti botol, gelang karet, baterai atau benda lainnya Tidak spontan, reflek dan tidak dapat berimajinasi dalam bermain. Tidak dapat meniru tindakan temannya dan tidak dapat memulai permainan yang bersifat pura pura. Sering memperhatikan jari-jarinya sendiri, kipas angin yang berputar atau angin yang bergerak. Perilaku yang ritualistik sering terjadi sulit mengubah rutinitas sehari hari, misalnya bila bermain harus melakukan urut-urutan tertentu, bila bepergian harus melalui rute yang sama.

Gangguan perilaku dilihat dari gejala sering dianggap sebagai anak yang senang kerapian harus menempatkan barang tertentu pada tempatnya. Anak dapat terlihat hiperaktif misalnya bila masuk dalam rumah yang baru pertama kali ia datang, ia akan membuka semua pintu, berjalan kesana kemari, berlari-lari tak tentu arah. Mengulang suatu gerakan tertentu (menggerakkan tangannya seperti burung terbang). Ia juga sering menyakiti diri sendiri seperti memukul kepala atau membenturkan kepala di dinding. Dapat menjadi sangat hiperaktif atau sangat pasif (pendiam), duduk diam bengong dengan tatap mata kosong. Marah tanpa alasan yang masuk akal. Amat sangat menaruh perhatian pada satu benda, ide, aktifitas ataupun orang. Tidak dapat menunjukkan akal sehatnya. Dapat sangat agresif ke orang lain atau dirinya sendiri. Gangguan kognitif tidur, gangguan makan dan gangguan perilaku lainnya.

Gangguan perasaan dan emosi dapat dilihat dari perilaku tertawa-tawa sendiri, menangis atau marah tanpa sebab nyata. Sering mengamuk tak terkendali (temper tantrum), terutama bila tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Sering mengamuk tak terkendali (temper tantrum)bila keinginannya tidak didapatkannya, bahkan bisa menjadi agresif dan merusak.. Tidak dapat berbagi perasaan (empati) dengan anak lain

Gangguan dalam persepsi sensoris meliputi perasaan sensitif terhadap cahaya, pendengaran, sentuhan, penciuman dan rasa (lidah) dari mulai ringan sampai berat. Menggigit, menjilat atau mencium mainan atau benda apa saja. Bila mendengar suara keras, menutup telinga. Menangis setiap kali dicuci rambutnya. Meraskan tidak nyaman bila diberi pakaian tertentu. Tidak menyukai rabaan atau pelukan, Bila digendong sering merosot atau melepaskan diri dari pelukan. Tidak menyukai rabaan atau pelukan, Bila digendong sering merosot atau melepaskan diri dari pelukan.


DIAGNOSIS AUTISM

Menegakkan diagnosis autism memang tidaklah mudah karena membutuhkan kecermatan, pengalaman dan mungkin perlu waktu yang tidak sebentar untuk pengamatan. Sejauh ini tidak ditemukan tes klinis yang dapat mendiagnosa langsung autisme. Untuk menetapkan diagnosis gangguan autism para klinisi sering menggunakan pedoman DSM IV.Gangguan Autism didiagnosis berdasarkan DSM-IV.

DiagnosIs yang paling baik adalah dengan cara seksama mengamati perilaku anak dalam berkomunikasi, bertingkah laku dan tingkat perkembangannya. Banyak tanda dan gejala perilaku seperti autism yang disebabkan oleh adanya gangguan selain autis. Pemeriksaan klinis dan penunjang lainnya mungkin diperlukan untuk memastikan kemungkinan adanya penyebab lain tersebut.

Karena karakteristik dari penyandang autis ini banyak sekali ragamnya sehingga cara diagnosa yang paling ideal adalah dengan memeriksakan anak pada beberapa tim dokter ahli seperti ahli neurologis, ahli psikologi anak, ahli penyakit anak, ahli terapi bahasa, ahli pengajar dan ahli profesional lainnya dibidang autis.

Dokter ahli atau praktisi kesehatan profesional yang hanya mempunyai sedikit pengetahuan dan wawasan mengenai autisme akan mengalami kesulitan dalam men-diagnosa autisme. Kadang kadang dokter ahli atau praktisi kesehatan profesional keliru melakukan diagnosa dan tidak melibatkan orang tua sewaktu melakukan diagnosa. Kesulitan dalam pemahaman autisme dapat menjurus pada kesalahan dalam memberikan pelayanan kepada penyandang autisme yang secara umum sangat memerlukan perhatian yang khusus dan rumit.

Hasil pengamatan sesaat belumlah dapat disimpulkan sebagai hasil mutlak dari kemampuan dan perilaku seorang anak. Masukkan dari orang tua mengenai kronologi perkembangan anak adalah hal terpenting dalam menentukan keakuratan hasil diagnosa. Secara sekilas, penyandang autis dapat terlihat seperti anak dengan keterbelakangan mental, kelainan perilaku, gangguan pendengaran atau bahkan berperilaku aneh dan nyentrik. Yang lebih menyulitkan lagi adalah semua gejala tersebut diatas dapat timbul secara bersamaan.

Karenanya sangatlah penting untuk membedakan antara autis dengan yang lainnya sehingga diagnosa yang akurat dan penanganan sedini mungkin dapat dilakukan untuk menentukan terapi yang tepat.

dapat terjadipada semua kelompok masyarakat kaya miskin, di desa dikota, berpendidikan maupun tidak serta pada semua kelompok etnis dan budaya di dunia.

Jumlah anak yang terkena autis semakin meningkat pesat di berbagai belahan dunia. Di Kanada dan Jepang pertambahan ini mencapai 40 persen sejak 1980. Di California sendiri pada tahun 2002 di-simpulkan terdapat 9 kasus autis per-harinya. Di Amerika Serikat disebutkan autis terjadi pada 60.000 - 15.000 anak dibawah 15 tahun. Kepustakaan lain menyebutkan prevalens autis 10-20 kasus dalam 10.000 orang, bahkan ada yang mengatakan 1 diantara 1000 anak. Di Inggris pada awal tahun 2002 bahkan dilaporkan angka kejadian autis meningkat sangat pesat, dicurigai 1 diantara 10 anak menderita autisma. Di Indonesia yang berpenduduk 200 juta, hingga saat ini belum diketahui berapa persisnya jumlah penyandang namun diperkirakanjumlah anak autis dapat mencapai 150 --200 ribu orang.Perbandingan antara laki dan perempuan adalah 2,6 - 4 : 1, namun anak perempuan yang terkena akan menunjukkan gejala yang lebih berat.


DETEKSI DINI

Meskipun sulit namun tanda dan gejala autism sebenarnya sudah bisa diamati sejak dini bahkan sejak sebelum usia 6 bulan.

1. DETEKSI DINI SEJAK DALAM KANDUNGAN

Sampai sejauh ini dengan kemajuan tehnologi kesehatan di dunia masih juga belum mampu mendeteksi resiko autism sejak dalam kandungan. Terdapat beberapa pemeriksaan biomolekular pada janin bayi untuk mendeteksi autism sejak dini, namun pemeriksaan ini masih dalam batas kebutuhan untuk penelitian.

2. DETEKSI DINI SEJAK LAHIR HINGGA USIA 5 TAHUN

Autisma agak sulit di diagnosis pada usia bayi. Tetapi amatlah penting untuk mengetahui gejala dan tanda penyakit ini sejak dini karena penanganan yang lebih cepat akan memberikan hasil yang lebih baik. Beberapa pakar kesehatanpun meyakini bahwa merupahan hal yang utama bahwa semakin besar kemungkinan kemajuan dan perbaikan apabila kelainan pada anak ditemukan pada usia yang semakin muda

Gejala yang harus diwaspadai terlihat sejak bayi atau anak menurut usia :

USIA 0 - 6 BULAN

1. Bayi tampak terlalu tenang ( jarang menangis)

2. Terlalu sensitif, cepat terganggu/terusik

3. Gerakan tangan dan kaki berlebihan terutama bila mandi

4. Tidak "babbling"

5. Tidak ditemukan senyum sosial diatas 10 minggu

6. Tidak ada kontak mata diatas umur 3 bulan

7. Perkembangan motor kasar/halus sering tampak normal


GEJALA USIA 6 - 12 BULAN

1. Bayi tampak terlalu tenang ( jarang menangis)

2. Terlalu sensitif, cepat terganggu/terusik

3. Gerakan tangan dan kaki berlebihan

4. Sulit bila digendong

5. Tidak "babbling"

6. Menggigit tangan dan badan orang lain secara berlebihan

7. Tidak ditemukan senyum sosial

8. Tidak ada kontak mata

9. Perkembangan motor kasar/halus sering tampak normal

GEJALA USIA 6 - 12 BULAN

1. Kaku bila digendong

2. Tidak mau bermain permainan sederhana (ciluk ba, da-da)

3. Tidak mengeluarkan kata

4. Tidak tertarik pada boneka

5. Memperhatikan tangannya sendiri

6. Terdapat keterlambatan dalam perkembangan motor kasar/halus

7. Mungkin tidak dapat menerima makanan cair


GEJALA PADA USIA :

USIA 2 - 3 TAHUN

1. Tidak tertarik untuk bersosialisasi dengan anak lain

2. Melihat orang sebagai "benda"

3. Kontak mata terbatas

4. Tertarik pada benda tertentu

5. Kaku bila digendong


USIA 4 - 5 TAHUN

1. Sering didapatkan ekolalia (membeo)

2. Mengeluarkan suara yang aneh (nada tinggi atau datar)

3. Marah bila rutinitas yang seharusnya berubah

4. Menyakiti diri sendiri (membenturkan kepala)

5. Temperamen tantrum atau agresif


DETEKSI DINI DENGAN SKRENING

Beberapa ahli perkembangan anak menggunakan klarifikasi yang disebut sebagai Zero to three's Diagnostic Classification of Mental Health and Development Disorders of Infacy and early Childhood. DC-0-3 menggunakan konsep bahwa proses diagnosis adalah proses berkelanjutan dan terus menerus, sehingga dokter yang merawat dalam pertambahan usia dapat mendalami tanda, gejala dan diagnosis pada anak. Diagnosis tidak dapat ditegakkan secara cepat, tapi harus melalui pengamatan yang cermat dan berulang-ulang. Dalam penegakkan diagnosis harus berkerjasama dengan orangtua dengan mengamati perkembangan hubungan anak dengan orangtua dan lingkungannya.

Konsep DC 0-3 tersebut digunakan karena pengalaman kesulitan dalam mendiagnosis Autis atau gangguan perilaku sejenisnya di bawah 3 tahun, khususnya yang mempunyai gejala yang belum jelas. Faktor inilah yang menyulitkan apabila anak didiagnosis autism terlalu dini, padahal dalam perkembangannya mungkin saja gangguan perkembanagn tersebut ada kecenderungan membaik atau menghilang. Sehingga kalau anaknya didiagnosis Autism adalah sesuatu yang berat bagi orang tua, seolah-olah sudah tidak harapan bagi si anak.




Skrening dilakukan pada umur 12-18 bulan

1. Apakah bayi anda sering terlihat bosan atau tidak berminat terhadap pembicaraan atau suatu aktivitas di sekitarnya?

2. Apakah anak anda sering mengerjakan suatu pekerjaan atau bermain dengan suatu benda, yang dilakukannya berulang-ulang dalam waktu yang lama, sehingga anda merasa heran mengapa anak seumurnya dapat berkonsentrasi sangat baik?

3. Apakah anda memperhatikan bahwa anak anda dapat sangat awas terhadap suara tertentu misalnya iklan di TV, tetapi seperti tidak mendengar suara lain yang sama kerasnya, bahkan tidak menoleh bila dipanggil?

4. Apakah anda merasa bahwa perkembangan anak (selain perkembangan kemampuan berbicara) agak lambat (misalnya terlambat berjalan)?

5. Apakah anak anda hanya bermain dengan satu atau dua mainan yang disukainya saja hampir sepanjang waktunya, atau tidak berminat terhadap mainan?

6. Apakah anak anda sangat menyukai maraba suatu benda secara aneh, misalnya meraba-raba berbagai tekstur seperti karpet atau sutera?

7. Apakah ada seseorang yang menyatakan kekuatiran bahwa anak anda mungkin mengalami gangguan pendengaran?

8. Apakah anak anda senang memperhatikan dan bermain dengan jari-jarinya?

9. Apakah anak anda belum dapat atau tidak dapat menyatakan keinginannya, baik dengan menggunakan kata-kata atau dengan menunjuk menggunakan jarinya?


Penafsiran :

Bila ada 3 atau lebih jawaban "Ya" untuk nomor ganjil di antara semua pertanyaan tersebut, anak harus diperiksa lebih lanjut untuk menentukan apakah ia mengalami autisme.

Bila ada 3 atau lebih jawaban "Ya" untuk nomor genap di antara semua pertanyaan tersebut, anak harus diperiksa apakah ia mengalami gangguan perkembangan selain autisme.


Skrening pada umur 18-24 bulan

1. Apakah anak anda tampaknya tidak berminat untuk belajar bicara?

2. Apakah anak anda seperti tidak mempunyai rasa takut terhadap benda atau binatang yang berbahaya?

3. Bila anda mencoba menarik perhatiannya, apakah kadang-kadang anda merasa bahwa ia menghindari menatap mata anda?

4. Apakah anak anda suka digelitik dan berlari bersama, tetapi tidak menyukai bermain "ciluk-ba"

5. Apakah ia pernah mengalami saat-saat ia menjadi kurang berminat terhadap mainan?

6. Apakah ia menghindari atau tidak menyukai boneka atau mainan berbulu?

7. Apakah ia tidak suka bermain dengan boneka atau mainan berbulu?

8. Apakah ia terpesona pada sesuatu yang bergerak, misalnya membuka-buka halaman buku, menuang pasir, memutar roda mobil-mobilan atau memperhatikan gerakan air?

9. Apakah anda merasa bahwa kadang-kadang anak anda tidak peduli apakah anda berada atau tidak ada di sekitarnya?

10. Apakah kadang-kadang suasana hatinya berubah tiba-tiba tanpa alasan yang jelas?

11. Apakah ia mengalami kesulitan untuk bermain dengan mainan baru, walaupun setelah terbiasa ia dapat bermain dengan mainan tersebut?

12. Apakah ia pernah berhenti menggunakan mimik yang sudah pernah dikuasainya, seperti melambaikan tangan untuk menyatakan da-dah, mencium pipi, atau menggoyangkan kepala untuk menyatakan tidak?

13. Apakah anak anda sering melambaikan tangan ke atas dan ke bawah di samping atau di depan tubuhnya seperti melambai-lambai bila merasa senang?

14. Apakah anak anda menangis bila anda pergi, tetapi seperti tidak peduli saat anda datang kembali?


Penafsiran :

Bila ada 3 atau lebih jawaban "Ya" untuk nomor ganjil di antara semua pertanyaan tersebut, anak harus diperiksa lebih lanjut untuk menentukan apakah ia mengalami autisme.

Bila ada 3 atau lebih jawaban "Ya" untuk nomor genap di antara semua pertanyaan tersebut, anak harus diperiksa apakah ia mengalami gangguan perkembangan selain autisme.


MSDD (Multisystem Developmental Disorders)

PEMERIKSAAN YANG DILAKUKAN

Penegakan diagnosis Autis adalah melalui diagnosis klinis atau hanya bersarkan pengamatan langsung dan tidak langsung (melalui wawancara orang tua atau anamnesa). Sehingga dalam penegakkan diagnosis autis sebenarnya tidak harus menggunakan pemeriksaan laboratorium yang sangat banyakl dan sanngat mahal. Tidak ada satupun pemeriksaan medis yang dapat memastikan suatu diagnosis Autism pada anak. Tetapi terdapat beberapa pemeriksaan yang dapat menunjang diagnosis yang dapat digunakan sebagai dasar intervensi dan strategi pengobatan. Sehingga pemeriksaan penunjang laboratorium hanyal untuk kepentiangan strategi penatalaksanaan semata dan bukan sebagai alat diagnosis

Bila terdapat gangguan pendengaran harus dilakukan beberapa pemeriksaan Audio gram and Typanogram. EEG untuk memeriksa gelombang otak yang mennujukkan gangguan kejang, diindikasikan pada kelainan tumor dan gangguan otak.. Pemeriksaan lain adalah skrening gangguan metabolik, yang dilakukan adalah pemeriksaan darah dan urine untuk melihat metabolisme makanan di dalam tubuh dan pengaruhnya pada tumbuh kembang anak. Beberapa spectrum autism dapat disembuhkan dengan diet khusus.

MRI (Magnetic Resonance Imaging) dan CAT Scans (Computer Assited Axial Tomography): sangat menolong untuk mendiagnosis kelainan struktur otak, karena dapat melihat struktur otak secara lebih detail. Pemeriksaan genetic dengan melalui pemeriksaan darah adalah untuk melihat kelainan genetik, yang dapat menyebabkan gangguan perkembangan. Beberapa penelitian menunjukkkan bahwa penyandang autism telah dapat ditemukan pola DNA dalam tubuhnya.

MSDD (Multisystem Developmental Disorders) adalah diagnosis gangguan perkembangan dalam hal kesanggupannya berhubungan, berkomunikasi, bermain dan belajar. Gangguan MSDD tidak menetap seperti gangguan pada Autistis Spectrum Disorders, tetapi sangat mungkin untuk terjadi perubahan dan perbaikkan. Pengertian MSDD meliputi gangguan sensoris multipel dan interaksi sensori motor. Gejala MSDD meliputi : gangguan dalam berhubungan sosial dan emosional dengan orang tua atau pengasuh, gangguan dalam mempertahankan dan mengembangkan komunikai, gangguan dalam proses auditory dan gangguan dalam proses berbagai sensori lain atau koordinasi motorik



Pervasive Developmental Disorders Screening Test PDDST - II

PDDST-II adalah salah satu alat skrening yang telah dikembangkan oleh Siegel B. dari Pervasive Developmental Disorders Clinic and Laboratory, Amerika Serikat sejak tahun 1997. Perangkat ini banyak digunakan di berbagai pusat terapi gangguan perliaku di dunia. Beberapa penelitian menunjukkan hasil yang cukup baik sebagai alat bantu diagnosis atau skrening Autis.



OBSERVASI SECARA LANGSUNG

Untuk dapat melakukan penilaian yang cermat tentang penyimpangan perilaku pada anak sangat penting dilakukan observasi secara langsung. Observasi secara langsung ini meliputi interaksi langsung, penilaian fungsional dan penilaian dasar bermain.

Observasi langsung yangs erring dilakukan adalah dengan melakukan interaksi langsung dengan anak dan diikuti dengan wawancara terhadap orangtua dan keluarga. Informasi tentang emosi anak, sosial, komunikasi, kemampuan kognitif dapat dilakukan secara bersamaan melalui interaksi langsung, observasi dalam berbagai situasi, dan wawancara atau anamnesa dengan orangtua dan pengasuhnya. Orang tua dan anggota lainnya harus ikut aktif dalam penilaian tersebut. .

Observasi langsung lainnya adalah dengan melakukan penilaian fungsional. Tujuan penilaian ini adalah untuk mengetahui bagaimana bisa terjadi perubahan perilaku seperti perilaku gerakan yang aneh, perilaku bicara yang khas dan sebagainya. Berdasarkan pertimbangan itu bahwa perubahan perilaku adalah suatu cara untuk berkomunikasi dengan lingkungan. Penilaian fungsional termasuk wawancara, observasi langsung dan interaksi secara langsung untuk mengetahui apakah anak menderita autism atau dikaitkan ketidakmampuan dalam komunikasi melalui perilaku anak.Penilaian secara fungsional ini akan membantu dalam perencanaan intervensi atau terapi okupasi yang harus diberikan.

Penilaian dasar bermain juga merupakan observasi langsung yang penting untuk dilakukan. Penilaian ini melibatkan orang tua, guru, pengasuh atau anggota keluarga lainnya untuk mengamati situasi permainan yang dapat memberikan informasi hubungan sosial, eomosional, kognitif dan perkembangan komunikasi. Dengan mengetahui kebiasaan belajar anak dan pola interaksi melalui penilaian permainan, pengobatan secara individual dapat direncanakan.


Terapi Musik bagi Anak Berkebutuhan Khusus

Senin, 27/08/2007 - 13:17 - dikirim oleh: fajar. Berita

Terapi musik diyakini dapat menjadi salah satu alternatif bagi orang-orang berkebutuhan khusus, terutama untuk mengembangkan kemampuan anak dalam berinteraksi dan berkomunikasi.

Dalam seminar bertajuk “Music Therapy: Awareness Days” di Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, Sabtu (25/8), Patricia Herdianto-terapis musik yang kini bermukim di Inggris-mengatakan, jenis terapi ini merupakan salah satu alternatif yang baik bagi anak-anak ataupun orang dewasa yang mengalami gangguan dalam pertumbuhan, komunikasi, gangguan belajar, autis, keterbelakangan mental, dan gangguan lainnya.

Dalam kaitan ini, terapis musik bekerja bersama penderita gangguan belajar, gangguan mental, trauma, kecanduan, autis, gangguan berkomunikasi, epilepsi, manajemen stres, gangguan makan, dan penyiksaan seksual.

Terapi musik ialah penggunaan bunyi dan musik dalam memunculkan hubungan antara individu dan terapis untuk mendukung dan menguatkan secara fisik, mental, sosial, dan emosi. Penggunaan bunyi dan musik dapat berbagai cara, misalnya bermain musik bersama dengan improvisasi bebas.

Dengan terapi musik, kata Patricia, mereka yang berkebutuhan khusus akan mempunyai kesempatan berinteraksi dan berkomunikasi dalam musik. Mereka dapat mengungkapkan diri dengan segala cara, baik menggunakan anggota tubuh, suara, maupun alat musik yang disediakan.

“Bagi sebagian orang, kata-kata tak memungkinkan atau tak terlalu efektif untuk berkomunikasi. Biasanya, kendala yang dialami, mereka tidak ingin membicarakan sesuatu yang spesifik akibat trauma. Adakalanya mereka tidak dapat berbicara karena kelainan fisik atau gangguan mental, dan memang memilih tidak berbicara, atau tidak dapat berbicara karena stres,” ujar Patricia.

Sesuai kebutuhan individu

Terapi musik dapat membantu karena terapi disesuaikan dengan kebutuhan individu. “Musik dapat menggerakkan kita karena selama ini kita selalu bergerak secara musikal, misalnya dengan ritmik dan harmoni. Gerakan kita yang beritmik dapat dibaca sebagai narasi atau melodi,” ujar Patricia, yang sudah tujuh tahun berpraktik di Inggris.


Secara teknis, memainkan alat musik dapat mengembangkan koordinasi motorik. Mendengarkan musik atau membuat komposisi dapat mengembangkan kemampuan kognitif, seperti daya ingat dan konsentrasi. Melalui musik terapi juga dapat dimunculkan interaksi-ekspresi melalui cara yang tidak mengancam dan komunikasi bersifat nonverbal.

“Musik dapat menjadi ruang yang aman untuk mengeksplorasi perasaan dan emosi, serta bebas tekanan dari luar, sehingga membuat mereka diterima. Melalui terapi musik juga dapat dibangun rasa percaya dan hubungan yang baik,” kata lulusan Unika Atma Jaya Jakarta yang mengambil master untuk terapi musik di Inggris itu.

Musik terapi juga dapat digunakan untuk mengembangkan secara dini kemampuan berinteraksi, membantu mengembangkan rasa percaya diri, meningkatkan rasa kesadaran sosial, dan memungkinkan kreativitas dan imajinasi berkembang.

Metode ini pertama kali ditemukan di Amerika tahun 1950- an. Di Inggris, Juliet Alvin merupakan pionir terapi musik. Adapun analytical music therapy dikembangkan oleh Mary Priestly ketika bekerja sebagai terapis musik di satu rumah sakit jiwa, tahun 1970-an.(INE)

Sumber:

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0708/27/humaniora/3793815.htm


10 Model Terapi Anak Autis

April 1, 2008

Sumber : www.slbpembina-riau.com

Akhir2 ini bermunculan berbagai cara / obat/ suplemen yang ditawarkan dengan iming2 bisa menyembuhkan autisme. Kadang2 secara gencar dipromosikan oleh si penjual, ada pula cara2 mengiklankan diri di televisi/radio/tulisan2.

Para orang tua harus hati-hati dan jangan sembarangan membiarkan anaknya sebagai kelinci percobaan. Sayangnya masih banyak yang terkecoh , dan setelah mengeluarkan banyak uang menjadi kecewa oleh karena hasil yang diharapkan tidak tercapai.

Dibawah ini ada 10 jenis terapi yang benar2 diakui oleh para professional dan memang bagus untuk autisme. Namun, jangan lupa bahwa Gangguan Spectrum Autisme adalah suatu gangguan proses perkembangan, sehingga terapi jenis apapun yang dilakukan akan memerlukan waktu yang lama. Kecuali itu, terapi harus dilakukan secara terpadu dan setiap anak membutuhkan jenis terapi yang berbeda.

1) Applied Behavioral Analysis (ABA)

ABA adalah jenis terapi yang telah lama dipakai , telah dilakukan penelitian dan didisain khusus untuk anak dengan autisme. Sistem yang dipakai adalah memberi pelatihan khusus pada anak dengan memberikan positive reinforcement (hadiah/pujian). Jenis terapi ini bias diukur kemajuannya . Saat ini terapi inilah yang paling banyak dipakai di Indonesia.

2) Terapi Wicara

Hampir semua anak dengan autisme mempunyai kesulitan dalam bicara dan berbahasa. Biasanya hal inilah yang paling menonjol, banyak pula individu autistic yang non-verbal atau kemampuan bicaranya sangat kurang.

Kadang-kadang bicaranya cukup berkembang , namun mereka tidak mampu untuk memakai bicaranya untuk berkomunikasi/berinteraksi dengan orang lain.

Dalam hal ini terapi wicara dan berbahasa akan sangat menolong.

3) Terapi Okupasi

Hampir semua anak autistik mempunyai keterlambatan dalam perkembangan motorik halus. Gerak-geriknya kaku dan kasar, mereka kesulitan untuk memegang pinsil dengan cara yang benar, kesulitan untuk memegang sendok dan menyuap makanan kemulutnya, dan lain sebagainya. Dalam hal ini terapi okupasi sangat penting untuk melatih mempergunakan otot2 halusnya dengan benar.

4) Terapi Fisik

Autisme adalah suatu gangguan perkembangan pervasif. Banyak diantara individu autistik mempunyai gangguan perkembangan dalam motorik kasarnya.

Kadang2 tonus ototnya lembek sehingga jalannya kurang kuat. Keseimbangan tubuhnya kurang bagus. Fisioterapi dan terapi integrasi sensoris akan sangat banyak menolong untuk menguatkan otot2nya dan memperbaiki keseimbangan tubuhnya.

5) Terapi Sosial

Kekurangan yang paling mendasar bagi individu autisme adalah dalam bidang komunikasi dan interaksi . Banyak anak-anak ini membutuhkan pertolongan dalam ketrampilan berkomunikasi 2 arah, membuat teman dan main bersama ditempat bermain. Seorang terqapis sosial membantu dengan memberikan fasilitas pada mereka untuk bergaul dengan teman-teman sebaya dan mengajari cara2nya.

6) Terapi Bermain

Meskipun terdengarnya aneh, seorang anak autistik membutuhkan pertolongan dalam belajar bermain. Bermain dengan teman sebaya berguna untuk belajar bicara, komunikasi dan interaksi social. Seorang terapis bermain bisa membantu anak dalam hal ini dengan teknik-teknik tertentu.

7) Terapi Perilaku.

Anak autistik seringkali merasa frustrasi. Teman-temannya seringkali tidak memahami mereka, mereka merasa sulit mengekspresikan kebutuhannya, Mereka banyak yang hipersensitif terhadap suara, cahaya dan sentuhan. Tak heran bila mereka sering mengamuk. Seorang terapis perilaku terlatih untuk mencari latar belakang dari perilaku negatif tersebut dan mencari solusinya dengan merekomendasikan perubahan lingkungan dan rutin anak tersebut untuk memperbaiki perilakunya,

8) Terapi Perkembangan

Floortime, Son-rise dan RDI (Relationship Developmental Intervention) dianggap sebagai terapi perkembangan. Artinya anak dipelajari minatnya, kekuatannya dan tingkat perkembangannya, kemudian ditingkatkan kemampuan sosial, emosional dan Intelektualnya. Terapi perkembangan berbeda dengan terapi perilaku seperti ABA yang lebih mengajarkan ketrampilan yang lebih spesifik.

9) Terapi Visual

Individu autistik lebih mudah belajar dengan melihat (visual learners/visual thinkers). Hal inilah yang kemudian dipakai untuk mengembangkan metode belajar komunikasi melalui gambar-gambar, misalnya dengan metode …………. Dan PECS ( Picture Exchange Communication System). Beberapa video games bisa juga dipakai untuk mengembangkan ketrampilan komunikasi.

10) Terapi Biomedik

Terapi biomedik dikembangkan oleh kelompok dokter yang tergabung dalam DAN! (Defeat Autism Now). Banyak dari para perintisnya mempunyai anak autistik. Mereka sangat gigih melakukan riset dan menemukan bahwa gejala-gejala anak ini diperparah oleh adanya gangguan metabolisme yang akan berdampak pada gangguan fungsi otak. Oleh karena itu anak-anak ini diperiksa secara intensif, pemeriksaan, darah, urin, feses, dan rambut. Semua hal abnormal yang ditemukan dibereskan, sehingga otak menjadi bersih dari gangguan. Terrnyata lebih banyak anak mengalami kemajuan bila mendapatkan terapi yang komprehensif, yaitu terapi dari luar dan dari dalam tubuh sendiri (biomedis).



Mengenal Autis

Kata autis berasal dari bahasa Yunani "auto" berarti sendiri yang ditujukan pada seseorang yang menunjukkan gejala "hidup dalam dunianya sendiri". Pada umumnya penyandang autisma mengacuhkan suara, penglihatan ataupun kejadian yang melibatkan mereka. Jika ada reaksi biasanya reaksi ini tidak sesuai dengan situasi atau malahan tidak ada reaksi sama sekali. Mereka menghindari atau tidak berespon terhadap kontak sosial (pandangan mata, sentuhan kasih sayang, bermain dengan anak lain dan sebagainya).

Pemakaian istilah autis kepada penyandang diperkenalkan pertama kali oleh Leo Kanner, seorang psikiater dari Harvard (Kanner, Austistic Disturbance of Affective Contact) pada tahun 1943 berdasarkan pengamatan terhadap 11 penyandang yang menunjukkan gejala kesulitan berhubungan dengan orang lain, mengisolasi diri, perilaku yang tidak biasa dan cara berkomunikasi yang aneh.

Autis adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial. Autis dapat terjadipada semua kelompok masyarakat kaya miskin, di desa dikota, berpendidikan maupun tidak serta pada semua kelompok etnis dan budaya di dunia.

Jumlah anak yang terkena autis semakin meningkat pesat di berbagai belahan dunia. Di Kanada dan Jepang pertambahan ini mencapai 40 persen sejak 1980. Di California sendiri pada tahun 2002 di-simpulkan terdapat 9 kasus autis per-harinya. Di Amerika Serikat disebutkan autis terjadi pada 60.000 - 15.000 anak dibawah 15 tahun. Kepustakaan lain menyebutkan prevalens autis 10-20 kasus dalam 10.000 orang, bahkan ada yang mengatakan 1 diantara 1000 anak. Di Inggris pada awal tahun 2002 bahkan dilaporkan angka kejadian autis meningkat sangat pesat, dicurigai 1 diantara 10 anak menderita autisma. Di Indonesia yang berpenduduk 200 juta, hingga saat ini belum diketahui berapa persisnya jumlah penyandang namun diperkirakanjumlah anak autis dapat mencapai 150 --200 ribu orang.Perbandingan antara laki dan perempuan adalah 2,6 - 4 : 1, namun anak perempuan yang terkena akan menunjukkan gejala yang lebih berat.

Mengenal Autis

Kata autis berasal dari bahasa Yunani "auto" berarti sendiri yang ditujukan pada seseorang yang menunjukkan gejala "hidup dalam dunianya sendiri". Pada umumnya penyandang autisma mengacuhkan suara, penglihatan ataupun kejadian yang melibatkan mereka. Jika ada reaksi biasanya reaksi ini tidak sesuai dengan situasi atau malahan tidak ada reaksi sama sekali. Mereka menghindari atau tidak berespon terhadap kontak sosial (pandangan mata, sentuhan kasih sayang, bermain dengan anak lain dan sebagainya).

Pemakaian istilah autis kepada penyandang diperkenalkan pertama kali oleh Leo Kanner, seorang psikiater dari Harvard (Kanner, Austistic Disturbance of Affective Contact) pada tahun 1943 berdasarkan pengamatan terhadap 11 penyandang yang menunjukkan gejala kesulitan berhubungan dengan orang lain, mengisolasi diri, perilaku yang tidak biasa dan cara berkomunikasi yang aneh.

Autis adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial. Autis dapat terjadipada semua kelompok masyarakat kaya miskin, di desa dikota, berpendidikan maupun tidak serta pada semua kelompok etnis dan budaya di dunia.

Jumlah anak yang terkena autis semakin meningkat pesat di berbagai belahan dunia. Di Kanada dan Jepang pertambahan ini mencapai 40 persen sejak 1980. Di California sendiri pada tahun 2002 di-simpulkan terdapat 9 kasus autis per-harinya. Di Amerika Serikat disebutkan autis terjadi pada 60.000 - 15.000 anak dibawah 15 tahun. Kepustakaan lain menyebutkan prevalens autis 10-20 kasus dalam 10.000 orang, bahkan ada yang mengatakan 1 diantara 1000 anak. Di Inggris pada awal tahun 2002 bahkan dilaporkan angka kejadian autis meningkat sangat pesat, dicurigai 1 diantara 10 anak menderita autisma. Di Indonesia yang berpenduduk 200 juta, hingga saat ini belum diketahui berapa persisnya jumlah penyandang namun diperkirakanjumlah anak autis dapat mencapai 150 --200 ribu orang.Perbandingan antara laki dan perempuan adalah 2,6 - 4 : 1, namun anak perempuan yang terkena akan menunjukkan gejala yang lebih berat.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More